茹毛饮血
*Penjelasan di halaman ini dibuat oleh AI dan mungkin mengandung informasi yang tidak akurat.
1. Informasi Dasar
- Pinyin: rú máo yǐn xuè
- Terjemahan Bahasa Indonesia: Memakan bulu dan meminum darah (kehidupan primitif yang belum mengenal peradaban)
- Susunan Chengyu: 「茹」(Memakan (menelan atau mengunyah))
+ 「毛」(Bulu (hewan buruan)) + 「饮」(Meminum) + 「血」(Darah) - Arti: Gaya hidup primitif ketika manusia belum mengenal api, sehingga memakan daging buruan mentah-mentah beserta bulunya dan meminum darahnya. Kiasan ini digunakan untuk menggambarkan kondisi biadab yang belum tersentuh peradaban, atau lingkungan hidup yang sangat keras dan primitif.
2. Arti dan Nuansa Terperinci
「茹毛饮血」 memiliki nuansa berikut:
- Pola makan zaman purba: Secara harfiah berarti 'memakan bulu dan meminum darah', melukiskan cara bertahan hidup manusia purba sebelum menemukan cara mengolah makanan dengan api.
- Simbol keterbelakangan dan ketiadaan peradaban: Dalam konteks modern, ungkapan ini digunakan sebagai kiasan untuk tahap sebelum terbentuknya masyarakat beradab, atau keadaan biadab yang terisolasi dari peradaban modern.
3. Penggunaan
「茹毛饮血」 terutama digunakan dalam konteks berikut:
- Deskripsi sejarah dan antropologi: Paling sering dipakai saat membahas evolusi manusia dan perkembangan peradaban, khususnya menjelaskan tahap awal kehidupan purba.
- Contoh:「人类告别了茹毛饮血的时代,学会了使用火种。」
(Umat manusia mengucapkan selamat tinggal pada era hidup primitif tanpa mengenal peradaban, dan belajar menggunakan api.)
- Contoh:「人类告别了茹毛饮血的时代,学会了使用火种。」
- Kiasan kondisi ekstrem: Digunakan untuk menegaskan hilangnya tatanan peradaban atau lingkungan bertahan hidup yang sangat keras dan liar.
- Contoh:「如果不保护环境,也许有一天我们不得不退回到茹毛饮血的生活。」
(Jika kita tidak menjaga lingkungan, mungkin suatu hari nanti kita terpaksa mundur ke pola hidup yang serba primitif.)
- Contoh:「如果不保护环境,也许有一天我们不得不退回到茹毛饮血的生活。」
Contoh Lainnya:
- 在那片原始森林里,探险队仿佛回到了茹毛饮血的远古时期。
(Di dalam hutan rimba itu, tim ekspedisi merasa seolah-olah kembali ke zaman purba yang masih primitif.) - 虽然条件艰苦,但我们绝不能过那种茹毛饮血的日子。
(Meskipun situasinya sulit, kita sama sekali tidak boleh menjalani hidup yang liar dan tanpa peradaban seperti itu.) - 这本书生动地描绘了先民们茹毛饮血、与大自然搏斗的场景。
(Buku ini melukiskan secara hidup pemandangan nenek moyang yang menjalani hidup primitif dan bertarung melawan alam liar.)
4. Latar Belakang Budaya dan Catatan
- Berasal dari bab 礼运 (Lǐ Yùn) dalam kitab 礼记 (Lǐ Jì), yang mencatat: '未有火化,食草木之食,鸟兽之肉,饮其血,茹其毛' (Belum ada pengolahan dengan api; manusia memakan dedaunan dan buah, menyantap daging burung serta binatang buas, meminum darahnya, dan melahap bulunya).
- Dalam kebudayaan Tionghoa, kemampuan memasak menggunakan 'api' adalah tonggak penting berdirinya peradaban. Oleh sebab itu, 茹毛饮血 (rú máo yǐn xuè) yang tidak mengenal api telah mengakar kuat sebagai simbol kondisi 'biadab' sebelum lahirnya tata krama, etika, dan budaya.
5. Chengyu Serupa dan Berlawanan
- Chengyu Serupa:
- 刀耕火种 (dāo gēng huǒ zhòng): Sistem perladangan tebas bakar; mengiaskan metode produksi dan mata pencaharian yang masih sangat primitif.
- 原始社会 (yuán shǐ shè huì): Masyarakat primitif. Meskipun bukan berstatus chengyu, frasa ini sering digunakan dalam konteks yang senada.
- 生吞活剥 (shēng tūn huó bō): Menelan mentah-mentah; mengiaskan tindakan meniru atau mengutip karya orang lain tanpa mencerna dan memahaminya secara mendalam.link
- Chengyu Berlawanan:
- 锦衣玉食 (jǐn yī yù shí): Pakaian indah dari sutra dan santapan mewah; menggambarkan kehidupan yang serba makmur dan berlimpah kemewahan.
- 文明开化 (wén míng kāi huà): Terbukanya peradaban dan berkembangnya pencerahan intelektual masyarakat.
- 文质彬彬 (wén zhì bīn bīn): Keseimbangan sempurna antara keanggunan lahiriah dan budi pekerti batiniah; tutur kata dan tingkah laku yang santun dan beradab.link
- 日新月异 (rì xīn yuè yì): Selalu memperbarui diri dari hari ke hari dan bulan ke bulan; kemajuan pesat yang terus berubah setiap saat.link
6. Ringkasan
Idiom 茹毛饮血 (rú máo yǐn xuè) menggambarkan cara hidup manusia purba sebelum ditemukannya api yang memakan buruan mentah-mentah. Dalam konteks modern, ungkapan ini digunakan secara metaforis untuk merujuk pada kondisi 'primitif', keterbelakangan, atau lingkungan tanpa peradaban, dan sering muncul dalam buku sejarah maupun diskusi peradaban.
