background texture

无家可归

*Penjelasan di halaman ini dibuat oleh AI dan mungkin mengandung informasi yang tidak akurat.

1. Informasi Dasar

  • Pinyin: wú jiā kě guī
  • Terjemahan Bahasa Indonesia: Tidak memiliki rumah untuk pulang (tunawisma / terlunta-lunta)
  • Susunan Chengyu: 「无」(tidak ada; tidak memiliki)+「家」(rumah; keluarga; tempat bernaung)+「可」(bisa; dapat (menyatakan kemungkinan))+「归」(kembali; pulang)
  • Arti: Secara harfiah berarti "tidak ada rumah yang bisa dituju untuk pulang". Idiom ini menggambarkan situasi di mana seseorang kehilangan tempat tinggal akibat bencana alam, perang, atau kemiskinan, serta berada dalam kondisi sebatang kara dan kesepian. Ungkapan ini sering digunakan dalam konteks yang menggugah simpati, baik untuk merujuk pada kondisi fisik tunawisma maupun sebagai metafora bagi hilangnya tempat bersandar secara batin.

2. Arti dan Nuansa Terperinci

「无家可归」 memiliki nuansa berikut:

  • Kehilangan fisik: Makna paling harfiah dan langsung, merujuk pada kondisi kehilangan tempat tinggal sehingga terpaksa hidup di jalanan atau harus mengungsi di tempat penampungan.
  • Kesulitan sosial dan ekonomi: Tidak sekadar tidak memiliki bangunan rumah fisik, makna ini juga menyiratkan kondisi sebatang kara dan terputus dari jaringan keluarga maupun komunitas yang dapat dimintai bantuan.
  • Pengembaraan metaforis: Digunakan secara kiasan untuk hewan telantar, jiwa yang kehilangan pegangan hidup, atau orang-orang yang tersisih dan tidak diterima di kelompok sosial tertentu.

3. Penggunaan

「无家可归」 terutama digunakan dalam konteks berikut:

  • Isu sosial dan laporan bencana: Digunakan secara luas dalam berita maupun dokumenter saat membahas pengungsi perang, korban bencana alam, atau kaum tunawisma, baik dalam gaya bahasa formal maupun umum.
    • Contoh:「那场大地震导致数万人无家可归。」
      (Gempa bumi dahsyat itu menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal.)
  • Perlindungan hewan: Sering digunakan untuk menggambarkan hewan yang membutuhkan perlindungan atau hewan telantar (流浪动物), seperti anjing yang dibuang atau kucing liar, dengan nada penuh empati.
    • Contoh:「我们要关爱那些无家可归的流浪猫。」
      (Kita harus menyayangi kucing-kucing liar yang tidak punya tempat bernaung itu.)
  • Metafora dan penggambaran psikologis: Digunakan untuk mengekspresikan rasa kesepian mendalam ketika seseorang kehilangan tempat bersandar secara batin, atau merasa tersisih dan tidak memiliki tempat di lingkungan sosial.
    • Contoh:「自从公司倒闭后,他的灵魂仿佛变得无家可归。」
      (Sejak perusahaannya bangkrut, jiwanya seolah-olah menjadi terlunta-lunta tanpa tujuan.)

Contoh Lainnya:

  1. 战争让许多孩子成了孤儿,无家可归。
    (Perang telah membuat banyak anak menjadi yatim piatu dan kehilangan rumah.)
  2. 政府正在为无家可归者建立临时庇护所。
    (Pemerintah sedang membangun tempat penampungan sementara bagi kaum tunawisma.)
  3. 在这个陌生的城市里,他感到一种无家可归的凄凉。
    (Di kota yang asing ini, ia merasakan kepedihan seperti orang yang tidak punya tempat tinggal.)
  4. 由于长期失业,他最终沦落到无家可归的地步。
    (Akibat menganggur berkepanjangan, ia akhirnya jatuh ke dalam kondisi menjadi gelandangan.)
  5. 森林被砍伐后,许多野生动物变得无家可归。
    (Setelah hutan ditebang, banyak satwa liar kehilangan habitatnya.)

4. Latar Belakang Budaya dan Catatan

  • Konteks Sosial: Dalam laporan berita berbahasa Mandarin, sebutan 无家可归者 (wú jiā kě guī zhě) yang secara netral mendeskripsikan kondisi "orang yang tidak memiliki rumah" cenderung lebih disukai daripada istilah seperti 流浪汉 (liú làng hàn) yang bermakna "gelandangan", karena dinilai lebih objektif dan memiliki nuansa kepedulian sosial.
  • Konsep Keluarga: Dalam budaya Tionghoa, 家 (jiā) bukan sekadar bangunan fisik tempat berteduh, melainkan lambang pertalian darah, kehangatan keluarga, dan rasa memiliki. Karena itu, 无家可归 (wú jiā kě guī) memiliki bobot makna emosional yang jauh lebih dalam daripada sekadar ketiadaan atap pelindung; ungkapan ini menyiratkan kepedihan mendalam akibat kehilangan akar, keluarga, dan tempat berpijak dalam masyarakat.

5. Chengyu Serupa dan Berlawanan

6. Ringkasan

无家可归 (wú jiā kě guī) adalah idiom yang menggambarkan kondisi tidak memiliki rumah untuk pulang akibat bencana, perang, atau kemiskinan. Idiom ini tidak hanya merujuk pada kondisi fisik menjadi tunawisma, tetapi juga menekankan rasa kesepian dan kehilangan pegangan batin. Mengandung nada simpati mendalam, ungkapan ini dapat digunakan untuk manusia maupun hewan telantar.

Panduan Fitur 造句

Latihan Membuat Kalimat 📝

Coba buat kalimat menggunakan '无家可归'!

0/50